Perancangan Pasar Ikan Higienis di Rembang

pasar ikan rembang

Perancangan yang dipilih adalah perancangan Pasar Ikan Higienis (PIH) di Rembang, Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan Rembang yang terletak di jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) merupakan salah satu daerah penyuplai hasil perikanan di Jawa Tengah. Potensi perikanannya yang semakin berkembang pesat menjadikan perikanan sebagai lahan bisnis yang sangat menjanjikan. Seiring meningkatnya jumlah kedatangan kapal di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung meningkat pula aktifitas perdagangan ikan di wilayah tersebut. Pendaratan, pengolahan dan pemasaran ikan menjadi satu rentetan alur kegiatan yang melekat pada budaya masyarakat pesisir Rembang. Adanya fasilitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang diprioritaskan bagi para tengkulak dirasa masih kurang optimal bagi masyarakat sekitar. PIH ini dirancang dengan pendekatan karakteristik budaya berdagang masyarakat pesisir ke dalam konsep perancangan bangunannya. Karakteristik ini meliputi horizontalitas, floating market (pasar terapung) dan adanya integrasi yang kuat antara kegiatan pengolahan dan pemasaran ikan secara home industri. Dengan pendekatan tersebut dirasa mampu memunculkan bangunan yang responsive terhadap tapak sekitar, baik fisik maupun sosial.

Pasar Ikan Higienis merupakan pasar modern khusus ikan yang dirancang sebagai pusat perdagangan hasil perikanan dengan standar mutu produk sesuai dengan syarat kesehatan, higienitas bahan pangan serta syarat sanitasi lingkungan. Potensi perikanan Rembang yang semakin meningkat sangat mendukung untuk dibangunnya PIH. Karakter budaya berdagang masyarakat pesisirnya menjadi pendekatan dalam proses perancangan PIH, karena dengan pendekatan inilah bangunan PIH akan bisa lebih berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Agar tetap higienis, sebaiknya bangunan PIH didesain jauh dari kesan massif untuk mengoptimalkan sirkulasi penghawaan. Penggunaan material penyerap air seperti koral dan kon blok menjadi pilihan agar kondisi ruang tetap bersih dan kering. Sensitifitas terhadap tapak sekitar baik fisik maupun sosial sangat perlu diperhatikan agar bangunan lebih responsive terhadap lingkungan sekitar. Budaya berdagang masyarakat pesisir yang lebih bersifat ke tapak sosial hendaknya menjadi perhatian utama karena berkaitan erat dengan tingkah laku, karakter dan kebiasaan pengguna bangunan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

Oleh:
Yulianto P. Prihatmaji, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII, Yogyakarta
Araina Dwi Rustiani, Alumnus Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII, Yogyakarta
Diringkas dari Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 35, No. 2, Desember 2007: 172 – 182

Tentang Amix

Sudah menulis 66 artikel di blog ini.

Dipanggil Amix oleh keluarga dan teman-temannya. Pendiri sekaligus Admin Komunitas Blogger Rembang. Cuman iso copy paste terus edit-edit sithik kanggo Rembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] parampaa emoticons by masova, Edited by loewyi Modified from nartzco