Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Pamotan

gula merahBerdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah, Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3.015 Ha. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12.050,955 ton. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas, potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. Selain itu, industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal), serta sarana dan prasarana lainnya.

Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya variasi bahan baku, rendahnya teknologi pengolahan, pengawasan bahan baku dan produk, serta sanitasi dalam proses pengolahan. Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik, sedang dan jelek, dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha, yang meliputi warna, rasa dan kekerasan.

Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, pengembangan teknologi dan fasilitas produksi, melalui kerjasama dengan pihak lain.

Pada analisis SWOT (Strengths/Kekuatan, Weaknesses/Kelemahan, Opportunities/Peluang, Threats/Ancaman) melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung.

gula merah 2Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya.

Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal.

Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp. 265 juta yang terdiri atas modal tetap Rp. 218 juta dan modal kerja Rp. 47 juta. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp. 365 juta yang terdiri atas modal tetap Rp. 308 juta dan modal kerja Rp. 57 juta. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp. 258 juta dan Rp. 855 juta; IRR sebesar 40,60 % dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 196 juta atau 60 Kg/tahun dan Rp. 159 juta atau 45 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun.

gula merah 3Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

Alternatif strategi pengembangan yang dapat dilakukan antara lain: Pertama, melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal atau perbankan. Kedua, Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi, seperti mesin dan alat penunjang produksi. Ketiga, Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan
pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu.

Oleh: Mila Fadilah Utami (Skripsi Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor Tahun 2008)

Tentang Amix

Sudah menulis 66 artikel di blog ini.

Dipanggil Amix oleh keluarga dan teman-temannya. Pendiri sekaligus Admin Komunitas Blogger Rembang. Cuman iso copy paste terus edit-edit sithik kanggo Rembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] parampaa emoticons by masova, Edited by loewyi Modified from nartzco