Internet dari Atas Awan

Solara 60Pekan lalu, Google mengumumkan pembelian Titan Aerospace,perusahaan pembuat pesawat nirawak (drone). Beberapa bulan sebelumnya, Titan “dikejar-kejar” Facebook. Karena gagal “meminang” Titan, Facebook kemudian mengalihkan uangnya untuk membeli Ascenta, pembuat drone dari Somerset, Inggris, sekaligus merekrut ahli-ahli penerbangan dari NASA.

Google dan Facebook sama-sama melirik drone, tak lain karena Mereka beranggapan pesawat nirawak bisa membuka peluang-peluang baru di masa depan.Secara resmi kedua raksasa dunia itu menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya untuk memberi akses internet pada setiap orang di muka bumi. Drone, yang bisa terbang nonstop berbulan-bulan, itu akan ditempatkan di atas kawasan terpencil sambil memancarkan koneksi internet. Dengan akses internet yang tersedia, masyarakat setempat bisa mendapat beragam kemudahan.

Namun, di balik konsep itu, ada kalkulasi bisnis dan peluang-peluang besar yang terang benderang. Dengan membuka akses internet, mereka bisa melahirkan model bisnis baru dan membuka pasar di negara-negara berkembang. Saat ini, dua pertiga populasi di bumi belum terkoneksi dengan internet. Namun, sebelum semua layanan tadi bisa menjadi uang, koneksi internet harus disediakan dulu.

Mereka yang belum terkoneksi internet pada umumnya berada di negara-negara terpencil di Afrika, atau di pelosok-pelosok negera berkembang yang infrastrukturnya belum siap. Sejatinya, urusan menyiapkan koneksi internet milik perusahaan telekomunikasi. Namun, untuk membangun jaringan koneksi internet dibutuhkan ratusan jaringan menara base transciever station (BTS) yang butuh investasi mahal, dan ini adalah cara konvensional. Google dan Facebook melihat dari kacamata lain.

Facebook punya rencana ambisius untuk menyediakan akses internet yang terjangkau bagi setiap orang di dunia.Pada Agustus 2013,Facebook mengumumkan inisiatif internet.org. Koalisi yang berisi perusahaan-perusahaan raksasa teknologi informasi –Samsung, Ericsson, MediaTek, Nokia, Opera,dan Qualcomm– ini bekerja sama untuk mempermudah masyarakat mengakses internet dengan menggunakan metode-metode yang lebih tradisional seperti koneksi murah internet untuk ponsel. CEO Facebook, Mark Zuckerberg, mengklaim upaya ini berhasil memberikan akses internet pada tiga juta orang.

Maret 2014, lewat Connectivity Lab miliknya, Facebook melakukan riset dan pengujian beragam teknologi eksperimental termasuk drone untuk menjangkau kawasan terisolasi. “Kami sedang bekerja dalam bebeberapa cara untuk memancarkan internet dari angkasa,” kata Zuckerberg,seperti dilaporkan CNN.

Sebelum Facebook, Google sudah mengawali dengan Project Loon, yang diperkenalkan Juni tahun lalu. Proyek ini menguji coba balon udara yang terbang hingga stratosfir (20 kilometer dari permukaan tanah) sambil memancarkan gelombang radiountuk membangun koneksi internet di area dengan radius 40 kilometer. Masa pakai balon itu, menurut Google, bisa mencapai 100 hari.

Potensi drone milik Titan Aerospace (perusahaan ini lebih suka menyebutnya sebagai satelit atmosfer yang sifatnya semi-permanen) juga memikat hati Google. Tidak seperti drone militer, wahana ini tidak mampu terbang lincah atau terbang bolak-balik ke target tertentu. Sebaliknya mereka lebih mirip pesawat layang raksasa yang bisa terbang sendiri dari bandara biasa.

Dua model yang disiapkan, Solara 50 dan Solara 60, mulai dikomersialkan tahun depan. Pesawat-pesawat itu mengandalkan listrik dari matahari sebagai sumber energinya. Dengan rentang sayap lebih lebar dari Boeing 767 (sekitar 50 meter), banyak ruang tersedia untuk meletakkan 3.000 panel sel surya. Karena bisa mencukupi kebutuhan energinya sendiri –tidak perlu mengisi bahan bakar di darat secara berkala– pesawat ini mampu terbang nonstop hingga lima tahun. Ini memungkinkannya untuk melakukan misi penerbangan sejauh 2,8 juta mil (4,5 juta kilometer) dengan luas jangkauan 2.600 kilometer persegi. Bila Solara dipasangi pemancaryang sangat kuat, ia bisa menyediakan cakupan yang setara dengan ratusan BTS.

Kabarnya, Google bertekad membayar lebih tinggi yang ditawarkan Facebook untuk Titan. Laman TechCrunch menyebutkan, Facebook pernah menawar hingga US$ 60 juta. Sedangkan untuk Ascenta, kabarnya Facebook mengeluarkan dana US$ 20 juta.

Seperti Titan Aerospace, Ascenta juga spesialis dalam menciptakan wahana yang terbang sangat tinggi dan berdaya jelajah sangat jauh. Jenis baru pesawat ringan yang bisa diterbangkan hingga ketinggian 60.000 kaki ke atmosfer, jauh di atas awan dan badai serta lalu-lalang pesawat komersial yang biasanya di ketinggian 30.000-40.000 kaki.

Nantinya, pesawat itu bukan cuma memancarkan koneksi internet. Google dan Facebook bisa melengkapi pesawat itu dengan kamera dan sensor-sensor untuk memantau permukaan bumi. Google mencontohkan, teknologi ini bisa dipakai untuk memonitor kerusakan lingkungan.

Aksi Google bukan yang pertama. Sebelumnya, Google membeli dua perusahaan (setelah Facebook menunjukkan minatnya). Musim panas lalu Google dikabarkan membayar US$ 1,3 milyar untuk Waze (aplikasi smartphone ini pernah meraih penghargaan Best Overall Mobile App award pada Mobile World Congress 2013). Musim dingin lalu, Google juga sepakat membayar US$ 400 juta untuk DeepMind, perusahaan asal Inggris yang mengembangkan perangkat lunak kecerdasaan buatan (artificial intellingence) untuk mengenal gambar dan permainan elektronik.

Raksasa internet itu baru-baru ini membeli Makani Power, perusahaan startup yang mengembangkan high-altitude turbine untuk menghasilkan listrik tenaga angin. Jika selama ini kincir angin pembangkit listrik tenaga angin dipasang di menara tinggi, Makani memasang kincir di sayap yang merentang 8,4 meter yang didesain untuk terbang melingkar. Sayap itu tidak terbang bebas, tapi diikat dengan kawat. Arus listrik yang dihasilkan dikirim lewat kabel ke bumi.

Oleh: Rosyid (Majalah Gatra 26 / XX 7 Mei 2014)

Tentang Amix

Sudah menulis 66 artikel di blog ini.

Dipanggil Amix oleh keluarga dan teman-temannya. Pendiri sekaligus Admin Komunitas Blogger Rembang. Cuman iso copy paste terus edit-edit sithik kanggo Rembang.

One Response to Internet dari Atas Awan

  1. menarik sekali artikelnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] parampaa emoticons by masova, Edited by loewyi Modified from nartzco