Bisakah Pabrik Semen Membayar Nilai Tukar Sumber Mata Air di Rembang?

tolak pabrik semenArtikel ini akan mencoba membahas secara singkat tentang valuasi ekonomi nilai tukar mata air, pengangguran dan risiko bencana akibat dampak Pendirian Pabrik Semen di Rembang.

Pendirian pabrik semen di kecamatan Gunem menjadi sangat berbahaya karena lokasinya berada di wilayah Gunung watuputih yang merupakan kawasan lindung geologi, kawasan karst yang terbentuk berjuta-juta tahun lalu pada jaman Pliosen. Adanya pabrik semen di kawasan ini akan merusak sumber-sumber mata air yang selama ini menghidupi kebutuhan warga sekitar, mengaliri sawah-sawah dan tegalan. Manusia tidak akan mampu membentuknya lagi jika sudah rusak. Hak beribu-ribu petani Lasem, Pamotan, Sale, Gunem, Sulang, seluruh Rembang dan sebagian Blora akan terenggut.

sumber mata air rembang 1Gua-gua yang ada di sekitar adalah tempat bermukimnya berbagai jenis kelelawar yang berfungsi membantu penyerbukan tanaman dan sebagai pemakan hama. Eksploitasi alam kawasan ini akan mengganggu dan merusak ekosistem, membuat hewan-hewan sahabat petani itu lari bermigrasi, akibatnya adalah tanaman tidak bisa berbuah, rusak dan mati. Belum lagi ditambah debu polusi. Pabrik semen saja menyatakan AKAN MENCOBA (artinya belum yakin) bisa menghilangkan dampak debu tersebut. Penderita penyakit ISPA (sesak nafas dan infeksi paru-paru) akan meningkat. Makanan dan udara tercemar debu semen yang mengandung silica, yang sangat berbahaya bagi paru-paru jika terhirup. Pabrik semen yang didirikan di dekat pemukiman warga ini haru ditolak.

Pembangunan pabrik semen ini adalah bencana besar yang maha dahsyat, bukan lagi tentang berapa banyak modal yang ditanam, tapi berapa besar dampak yang akan terjadi secara jangka panjang yang akan diderita masyarakat sekitar. Investasi uang 3,5 Triliyun ini (modal pabrik semen yang ditanam) hanya akan menambah kesengsaraan warga Rembang. Uang itu tidak akan bisa mengatasi masalah-masalah berikut:

Apakah cukup jika digunakan untuk memenuhi kebutuhan air seluruh masyarakat Rembang?

Apakah cukup digunakan untuk biaya berobat masyarakat rembang yang terkena dampaknya?

Apakah cukup memberi makan seluruh masyarakat Rembang?

Apakah cukup digunakan untuk menciptakan tanah yang subur untuk bertani?

Apakah cukup untuk membiayai hidup keluarga petani (yang telah direnggut haknya)?

Apakah cukup untuk membiayai seluruh kerusakan yang ditimbulkan?

sungai cuci rembang

Ancaman bencana kekeringan, banjir dan tanah longsor adalah tanggung jawab mereka yang telah merusak alam, tanggung jawab perusahaan. Akan tetapi seperti yang sudah-sudah mereka tidak mau bertanggungjawab setelah terjadi bencana, lihat saja Lapindo. rakyat menjerit Perusahaan lari, pemerintah cuek. Kita harus benar-benar bisa berfikir jernih, investasi 3,5 Trilyun itu sangat kecil jika dibandingkan dengan dampak yang akan terjadi.

Kebutuhan air masyarakat Rembang bisa diestimasikan melalui perhitungan kebutuhan air konsumen PDAM. Dalam laporan PDAM kabupaten Rembang maka dapat digunakan kebutuhan estimasi kebutuhan air bersih rata-rata per orang yang dilayani oleh PDAM adalah 120 liter/hari. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Kabupaten Rembang (angka sementara) adalah 591.617 orang. Jadi kebutuhan rata-rata air perhari adalah 70.994.040 liter. Tarif PDAM rembang adalah Rp. 1.700 per meter kubik. Jika dinilai dalam bentuk rupiah, maka biaya yang harus dibayar adalah Rp. 120.689.868.000 per hari. Jika dikalikan selama 30 hari (1 bulan) menjadi Rp. 3.620.696.040.000. Untuk memenuhi kebutuhan air selama sebulan dalam kebutuhan rumah tangga rata-rata untuk seluruh wilayah Rembang adalah memakan dana 3,6 Trilyun, lebih besar dari investasi yang ditawarkan oleh pabrik Semen di Rembang. Padahal ini hanyalah perhitungan selama 1 bulan (30 hari), jika perhitungan itu dikalikan usia rata-rata kehidupan manusia (misalkan 60 tahun) berapa jumlahnya? {3,6 Trilyun x (12 bulan x 60 tahun)} = Rp 2.592 Trilyun. Angka yang sangat fantastis, lihatlah betapa berharganya air dibanding nilai investasi pabrik semen. Ini belum lagi dihitung nilai air sebagai bahan produktif, misalnya sebagai irigasi sawah atau bahan baku industri rumah tangga yang dikelola UKM di Rembang.

Pernahkah Pemkab memperhitungkan nilai tukar mata air ini? Padahal nilai mata air ini bahkan bisa lebih besar dari perhitungan yang saya perkirakan, karena perhitungan tersebut hanya memperhitungkan kebutuhan rata-rata rumah tangga, belum kebutuhan air minum, irigasi dan industri.

Selain nilai tukar mata air kita juga harus memperhatikan nilai tukar lahan produktif yang akan terkena dampak akibat pembangunan dan penambangan pabrik semen. Dalam Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Rembang menyebutkan bahwa berdasarkan catatan, pertumbuhan ekonomi tahun 2011 di Rembang adalah 4,4%. Sumbangan sektor pertanian adalah 44,75%, sektor perdagangan 17,38% dan paling kecil adalah sektor pertambangan sebesar 1,67%. Sumbangan sektor pertanian masih menempati nilai tertinggi, hampir mencapai 50%, ini berarti sumbangsih dari sektor pertanian sangat mempengaruhi perekonomian di Rembang. Bayangkan saja jika sektor pertanian mati, lantas apa yang akan terjadi pada kabupaten ini? Separuh dari Pendapatan Asli Daerah akan hilang. Akan tetapi sebaliknya jika sektor pertambangan dihapuskan maka PAD hanya berkurang 1,67%, angka tersebut bisa ditutupi dari usaha ekonomi kerakyatan. Jika pemerintah mau memberdayakan warga eks karyawan tambang dalam kegiatan ekonomi kerakyatan sesuai dengan kemampuan dan sumber yang ada, maka angka 1,67% tersebut mudah saja dikejar, daripada harus mempertaruhkan sektor pertanian yang menyumbang 44,75%.

Dari potensi yang ada, pemerintah harus jeli memperhatikan segala keperluan untuk memajukan usaha pertanian. Penambangan hanya akan menimbulkan pengrusakan alam, apalagi jika dilakukan di kawasan lindung. Umur ekonomis perusahaan tambang sangat terbatas, berbeda dengan umur ekonomis lahan produktif pertanian yang tidak terbatas. Lahan pertanian bisa digunakan secara turun-temurun, sejak jaman Nabi Adam sampai sekarang Bumi masih bisa ditanami. Tiada henti memberikan buah kehidupan kepada manusia dan makhluk hidup lainnya.

Selama ini, dalam upaya untuk mempengaruhi opini masyarakat agar menyetujui/menerima kehadiran Pabrik Semen, pihak Pemerintahan setempat maupun pabrik semen, selalu menggunakan janji-janji ”surgawi” mengenai kesejahteraan. Adanya pabrik semen nanti digambarkan akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Meski kesejahteraan yang dimaksud itu masih belum jelas. Namun jika dicermati, kesejahteraan itu kerap diindikasikan dari tenaga kerja yang akan direkrut/ditampung oleh Pabrik Semen jika pabrik ini nantinya sudah berdiri.

petani rembangBenarkah jika pabrik Semen nanti berdiri mampu menampung tenaga kerja banyak dan bisa mengurangi pengangguran? Jawabannya tentu tidak, bahkan justru akan menambah jumlah pengangguran di masyarakat. Sebab jumlah tenaga kerja yang terserap dalam rencana ini tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang dapat ditampung dalam lahan pertanian. Berikut estimasi jumlah tenaga yang selama ini bekerja bidang pertanian:

Jenis pekerjaan

Waktu (hari)

Jumlah (orang)

Mengaliri sawah dengan air dari saluran irigasi

1

2

Menata batas sawah untuk pengairan (noto galeng)

1

6

Membajak sawah menggunakan traktor

1

2

Membuat lahan persemaian

1

3

Menyebar benih

1

2

Merawat Benih

1

1

Mencabut Benih

1

12

Menanam benih

1

30

Membagikan benih untuk ditanam

1

2

Mencabut rumput (matun)

1

30

Penyemprotan

2

4

Perontokan padi

1

30

Menjemur padi

1

10

Mengangkut padi dari sawah

1

6

Menyimpan padi

1

2

Jumlah

 

146

Dengan catatan bahwa separuh dari pekerjaan dilakukan sendiri oleh pemilik lahan, tiap hektar dari lahan persawahan mampu menyerap 146 orang tenaga kerja. Jika 500 hektar lahan pertanian digunakan untuk penambangan bahan semen, berapa ribu orang petani yang akan kehilangan pekerjaan?

Wilayah pegunungan yang termasuk dalam daerah kering juga mendatangkan keuntungan bagi masyarakat yang mengolahnya. Untuk lahan kering (tegalan) yang sekarang ditanami pohon jati, masyarakat bisa mendapatkan penghasilan yang tidak kalah dengan tanaman musiman. Lahan seluas 1 ha yang ditanami 600 pohon jati, dalam jangka waktu 9 tahun dapat dipanen dan dijual dengan harga 40 juta. Setelah dikurangi dengan biaya produksi bibit dan perawatan sebesar 2 juta rupiah, maka petani memperoleh hasil rata-rata 4,2 juta/tahun. Belum lagi keuntungan warga yang didapat melalui beternak sapi atau kambing.

Banyak sekali nilai ekonomis yang diabaikan dalam pengambilan keputusan ini. Pemerintah Kabupaten cenderung melihat keuntungan jangka pendek dalam peningkatan PAD yang tidak berpengaruh secara signifikan dalam kesejahteraan masyarakat pada umumnya, terutama kesejahteraan masyarakat sekitar yang berpotensi terkena dampak paling berat.

Jumlah CSR (Corporate Social Responsibility) yang selalu digembar-gemborkan pun tidak jelas, lihat saja di Tuban yang sudah ada pabriknya saja tidak bisa mengungkap secara transparan mengenai jumlah CSR-nya, apalagi di Rembang yang belum berdiri. Warga Rembang jangan sampai mudah ditipu.

Daerah Penambangan atau Pabrik Semen menjadi daerah rawan bencana yang dahsyat dan merugikan warga sekitar: tanah longsor, banjir, kekeringan. Jika itu terjadi, berapa rumah yang akan tertimbun, berapa lahan pertanian yang rusak, berapa jumlah ternak mati, yang lebih mengenaskan berapa jumlah korban jiwa yang akan bergelimpangan, naudzubillahi min dzalik..!!!

Dari hasil analisis nilai tukar fungsi mata air, lahan produktif dan risiko bencana, sudah pasti nilai investasi yang ditawarkan oleh Pabrik Semen tidak sebanding dengan nilai tukar kehidupan dalam lingkungan hidup yang layak dan sehat. Maukah Rembang-mu ditukar dengan neraka yang kering dan penuh bencana?

Oleh: Ming Ming Lukiarti (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Rembang)

Sumber: http://pedulikendeng.blogspot.com

Tentang Amix

Sudah menulis 66 artikel di blog ini.

Dipanggil Amix oleh keluarga dan teman-temannya. Pendiri sekaligus Admin Komunitas Blogger Rembang. Cuman iso copy paste terus edit-edit sithik kanggo Rembang.

3 Responses to Bisakah Pabrik Semen Membayar Nilai Tukar Sumber Mata Air di Rembang?

  1. Nice post lek. Bener bgt kui pertanyaan2ne. Sebenere aku juga ragu opo jane pertimbangane pemberi perizinan Pabrik Semen nek Gunem kui? Karo opo iyo wong-wonge pegawai pemerintahan sing kerjo nek bidang lingkungan ora mudeng babar blas masalah nilai ekonomis sumberdaya alam, kok ngasek pabrek semen digawe nek tmpt koyo ngono. Salam Lestari!

  2. Antara Maju Dan Terpuruk
    Rembang 🙂

  3. Kalaupun sudah tidak bisa dibatalkan dan sudah terrealisasi,jagan sampai ini dimanfaatkan pihak2 tertentu untuk mengambil keuntungan,tapi kayaknya susah karena yang tanda tangan sudah keburu mborong tanah disana om,lugi oe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] parampaa emoticons by masova, Edited by loewyi Modified from nartzco