Aksen “Medok” pada Masyarakat Nelayan Rembang

perempuan nelayanRembang merupakan sebuah kabupaten yang terletak di antara Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa Timur. Letak kabupaten Rembang yang sebelah timurnya tepat diapit laut Jawa menjadikan masyarakat kabupaten ini mayoritas bermatapencaharian sebagai nelayan. Meskipun banyak di antaranya yang berdagang atau bertani, usaha dalam bidang perairan di laut masih mendominasi aktivitas mereka sehari-hari.

Kegiatan mereka yang tergolong keras dan kasar ternyata berimbas pada watak dan sikap. Watak dan sikap ini tentu saja salah satunya dapat dilihat dari aspek bahasanya. Selama ini ada anggapan bahwa masyarakat nelayan cenderung mempunyai aksen bahasa yang keras dan ”medok”. Mereka mempunyai bahasa dan jargon yang khas yang mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari.

Sedangkan jika dilihat dari relasi antara laki-laki dan perempuan, akan jelas terlihat bahwa masyarakat pesisir termasuk masyarakat yang masih menganggap bahwa laki-laki dan perempuan adalah sosok yang beda. Perbedaan ini tidak hanya sebatas perbedaan secara fisik yang bisa dilihat secara kasat mata namun juga perbedaan dalam hal relasi dan kedudukan. Di Rembang, laki-laki mendapat kedudukan yang lebih tinggi sedangkan perempuan kedudukannya dianggap lebih rendah. Maka, tidak mengherankan jika masyarakat pesisir lebih melihat laki-laki sebagai ”raja”.

Sejalan dengan hal di atas, Coates menyatakan bahwa perbedaan linguistic semata-mata merupakan suatu cerminan pembedaan sosial, dan selama masyarakat memandang laki-laki dan perempuan berbeda dan tidak setara, maka perbedaan dalam bahasa laki-laki dan perempuan akan terus ada (via Graddol 2003: 13). Pandangan bahwa perilaku linguistik semata-mata mencerminkan proses sosial sama sekali bukan pandangan yang langsung sifatnya.

Konstruksi relasi antara laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang berbanding lurus pada bahasa yang digunakan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, perbedaan itu lebih didasarkan pada perbedaan kepentingan. Laki-laki di wilayah pesisir sebelumnya dikonsepsikan pada tataran ”kelas tinggi” dibandingkan perempuan yang ternyata menjadikan mereka tidak punya kepentingan untuk merubah tatanan yang memang sudah menguntungkan mereka. Akibatnya, dalam berbahasa pun mereka tidak ingin mengubahnya. Para laki-laki lebih cenderung berbicara dengan aksen apa adanya dengan intonasi dan tekanan apa adanya tanpa ingin ditambah atau dikurangi. Kalaupun berubah itu lebih disebabkan pada mitra tutur mereka.

Berbeda dengan laki-laki, karena perempuan sebenarnya tidak ingin ditempatkan pada golongan ”masyarakat kedua”, sedikit banyak mereka mempunyai keinginan untuk mengubah semua itu. Apalagi jika kebahasaan itu dalam kaitannya dengan status sosial mereka. Di bawah ini beberapa contoh tuturan laki-laki dan perempuan yang digunakan masyarakat pesisir Rembang.

Bentuk Perempuan

Bentuk Laki-Laki

Makna

kawin rabi menikah
melu melok ikut
gowo nggondol membawa
deleng delok melihat
elik elek jelek
eidan uedan benar-benar gila

 

Dilihat dari tabel di atas, perbedaan aksen yang dituturkan laki-laki dan perempuan lebih pada perbedaan alat suara yang menutup terbuka. Pada tuturan laki-laki, kecenderungan yang ditemukan, vokal suara mereka cenderung terbuka dengan menggunakan vokal /o/, sedangkan untuk tuturan perempuan hal ini tidak begitu terlihat. Perempuan tidak ingin membuat alat suaranya terlalu terbuka. Dalam menggungkapkan tuturan, para perempuan lebih memperhatikan aspek kesopanan sehingga tuturan mereka lebih diturunkan volume suaranya sekaligus memilih aksen tuturan yang tidak tergolong ”kasar”.

Terdapat beberapa fenomena menarik yang peneliti temukan ketika melakukan pengamatan. Hasil penelitian menengarai bahwa perbedaan aksen tersebut biasanya dilakukan oleh anak muda, sedangkan para orang tua mereka cenderung berbicara apa adanya, kecuali beberapa keluarga yang dipandang sebagai keluarga berada. Mereka cenderung melakukan penyesuaian berdasarkan lingkungan terbaru mereka. Misalnya, ada beberapa keluarga di wilayah pesisir yang dikatakan cukup berhasil kehidupannya, maka dalam bertutur biasanya mereka lebih condong bertutur sedikit pelan dan dengan aksen yang lebih ”menutup”.

Dalam penelitian tentang aksen, pola tuturan masyarakat ternyata lebih memperhatikan dan cenderung mengikuti pola interaksi di dalam sebuah komunitas, dengan pembicaraanya bersama-sama orang yang secara rutin dan dengan hubungan status yang dimilikinya di tengah mereka. Kesemuanya ini distrukturkan oleh proses sosial dan ekonomi yang sedikit sekali kaitannya dengan bahasa. Di sejumlah komunitas, perempuan memilki kontak yang lebih lepas dan menyebar dengan orang lain dibandingkan dengan kaum laki-laki (disebabkan pembagian jenis kelamin secara konvensional pada pekerjaan, pola demografis, dan sebagainya).

Penyebab Perbedaan Aksen Tuturan Laki-Laki dan Perempuan

Telah disebutkan di atas bahwa Rembang terletak di sebelah timur pantai utara Jawa. Letak posisi Rembang yang demikian mempengaruhi cara-cara bertutur mereka, baik dari segi bahasa maupun aksen mereka. Dari segi bahasa, gaya bahasa mereka cenderung kasar dan keras, sedangkan dari segi aksen bahasa mereka lebih condong menggunakan bentuk vokal bundar dalam mengujarkan sesuatu.

Pembedaan aksen tersebut, pertama lebih disebabkan pada pembedaan gender yang mereka terima. Ketimpangan gender yang membedakan antara posisi laki-laki dan posisi perempuan menyebabkan aksen dan bahasa mereka tidak sama. Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa laki-laki diposisikan lebih tinggi daripada perempuan. Perbedaan gender yang demikian jelas menguntungkan pihak laki-laki dan merugikan pihak perempuan. Karena dianggap sudah menguntungkan, para laki-laki tidak berniat untuk mengubahnya. Sedangkan dari pihak perempuan,

meskipun sebagian besar dari mereka tidak paham tentang pengarusutamaan gender dan konstruksi gender yang timpang yang menimpa mereka, mereka tetap ingin mengujarkan aksen dan bahasa yang berbeda dengan laki-laki. Ini lebih disebabkan pada faktor kesopanan dan image kekasaran yang dimiliki laki-laki. Perempuan tidak ingin disebut sebagai orang yang kasar, maka perempuan melakukan pembedaan aksen dan bahasa yang tidak sama dengan laki-laki.

Aspek kedua yang mempengaruhi aksen dan bahasa pengguna tuturan laki-laki dan perempuan di wilayah pesisir adalah struktur sosial. Di wilayah Rembang masyarakat terbagi atas beberapa kelas struktur sosial. Secara umum, masyarakat Rembang terbagi atas masyarakat kelas atas dan kelas bawah. Masyarakat kelas atas adalah masyarakat yang mempunyai ekonomi mapan. Rata-rata mereka sudah menjalankan ibadah haji. Kehidupan perempuan dari golongan atas ini tidak hanya sekadar memikirkan kebutuhan sehari-hari, namun mereka juga bisa berinteraksi di luar komunitas mereka yang rata-rata berasal dari golongan priyayi lainnya. Hal inilah yang menjadikan perempuan

maupun laki-laki dari kalangan atas sedikit banyak telah mendapatkan pencampuran bahasa dari komunitas lain. Pencampuran ini lebih bersifat mempengaruhi ke arah baik karena biasanya mereka akan menjadi lebih sopan ketika berhadapan dengan orang-orang dari struktur sosial tertentu.

Pembicaraan berfungsi untuk menciptakan dan mempertahankan stereotipe jenis kelamin dan dominasi laki-laki. Tuturan kita tidak hanya mencerminkan ruang kita di dalam kebudayaan dan masyarakat, tetapi juga membantu menciptakan ruang tersebut, (sally Mc Connel-Ginet via Graddol 2003: 15).

Sintesis semacam ini bukan hanya merupakan sebuah kompromi antara gagasan bahwa bahasa menjadi cerminan, tetapi juga kebalikan bahwa bahasa menciptakan pembagian jender dan ketidaksetaraan. Dengan mengemukakan bahwa praktik-praktik linguistik dan sosial saling mendukung, ini menunjukkan adanya sebuah mekanisme yang lebih kuat bahwa sebab-sebab tunggal mungkin lebih mudah diidentifikasi dan perubahan lebih mudah memberi dampak.

Berdasarkan hal di atas dapat dilihat bahwa konstruksi bahasa, khususnya aksen antara laki-laki dan perempuan mengalami perbedaan. Perbedaan itu lebih disebabkan banyaknya vokal /o/ yang digunakan dalam tuturan laki-laki. Sedangkan perempuan lebih banyak menggunakan vokal /e/ atau /i/. Hasil penelitian menengarai bahwa perbedaan aksen tersebut biasanya dilakukan oleh anak muda sedangkan para orang tua mereka cenderung bicara apa adanya. Kecuali beberapa keluarga yang dipandang sebagai keluarga berada. Mereka cenderung melakukan penyesuaian berdasarkan lingkungan terbaru mereka.

Hal yang menarik ternyata meskipun laki-laki dikatakan mempunyai aksen yang lebih kasar dan terbuka dibandingkan perempuan ternyata laki-laki tidak ingin meniru aksen yang dituturkan perempuan. Mereka lebih cenderung ingin berbicara apa adanya. Untuk beberapa hal, terkadang perempuan di sana cenderung ”ambigu” Di satu sisi ketika mereka berbicara dengan orang yang ”di atas” mereka, maka aksen mereka lebih cenderung halus, namun jika berbicara dengan orang sepadan mereka atau ketika kemarahan itu muncul, maka mereka tidak akan memperhatikan lagi aspek kesopanan. Faktor yang menyebabkan perbedaan tuturan antara laki-laki dan perempuan di antaranya faktor sosial ekonomi dan konstruksi gender yang timpang.

 

Oleh: U’um Qomariyah, Universitas Negeri Semarang

Sumber: Jurnal Lingua Edisi V/2 Juli 2009

 

Tentang Amix

Sudah menulis 66 artikel di blog ini.

Dipanggil Amix oleh keluarga dan teman-temannya. Pendiri sekaligus Admin Komunitas Blogger Rembang. Cuman iso copy paste terus edit-edit sithik kanggo Rembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] parampaa emoticons by masova, Edited by loewyi Modified from nartzco